Thursday, February 22, 2007

SI MATA KEPITING

Laju motor kuperlambat saat memasuki halaman rumah. Seperti biasa aku pulang menjelang sore dan berharap bisa segera melihat wajah anakku. Dari mulut pintu, kudapati keadaan rumah ternyata sepi. Balitaku ternyata tengah tertidur, Cici (23 tahun) menjaganya di rumah. Tapi tidak seperti biasa, wajahnya nampak muram dengan pandangan yang selalu tertunduk. Ini adalah bulan kesekian di pertengahan tahun 2003 dia datang ke rumah atas permintaanku. Cici, seorang perempuan asal Bangka. Di Yogya dia tidak punya siapa-siapa. Semenjak Lulus D-1, dia berkonflik dengan orang tuanya karena suatu perbedaan pendapat. Sejak saat itu dia mau bekerja apa saja asal bisa tetap tinggal di Yogya. Ketika dia datang kepadaku, aku tidak punya lowongan apapun kecuali mempekerjakannya untuk membantu pekerjaan rumah tangga sehari-hari sekaligus menjemput anakku yang saat itu masih Play Group. Cici dengan suka hati mau menerima pekerjaan ini walau terdengar tidak bergengsi.

“Assalamualakum, “ aku beruluk salam.

“Wa alaikum salam, “ jawabnya. Cici duduk lesehan di depan televisi yang menyala, menghadapi setumpuk hasil cucian yang siap disetrika. Tangannya sibuk memilah-milah baju. Pandangannya mengerling sejenak ke arahku untuk kemudian kembali menyibukkan diri dengan pakaian-pakaian itu, seolah dengan kesibukan itu dia ingin lari dari pandanganku yang penuh tanya. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya.

”Ada apa, Ci? Kok kayaknya murung banget. Ada masalah, po?” tanyaku dengan nada setengah mendesak. ” Ayo, ngomong aja. Nggak papa, kok”.

Sejenak Cici menggelengkan kepalanya. Tetapi belum lagi dia menjawab, air mata menetes deras bercucuran. Terbata-bata dia menceritakan kegundahan hatinya. Tentang surat dari orang tuanya, tentang ketidak setujuan orang tuanya terhadap apa yang dia ingin lakukan, tentang adiknya, dan segala macam konflik yang selama ini terjadi.

Tangan Pipit bergerak menyeka mata, tapi sepertinya dia kesulitan menyeka hidung. Sekotak tissue segera kusodorkan ke hadapannya. Pipit pun melanjutkan tangisnya. Matanya memerah di penuhi air mata, hidung dan ujung-ujung bibirnya tertarik-tarik ke bawah tiap kali dia menceritakan kalimat demi kalimat.

***

Lain waktu, di suatu sore. Kulihat Cici seperti biasa duduk di depan teve yang menyala, dengan setumpuk bakal setrikaan yang menebarkan aroma pelembut pakaian. Wajahnya tidak semuram waktu itu, tetapi ada air mata yang menggenang di sudut-sudut matanya. Naluriku mencemaskan keadaannya. Ketika kutanya mengapa, Cici kembali menggelengkan kepalanya berkali-kali.

”Tidak ada apa-apa kok, mbak. Tuh, aku cuma lihat itu”, dagunya mendongak sekilas menunjuk ke arah teve. Tangannya tetap sibuk tak henti bekerja.

Di layar teve kulihat film India sedang ditayangkan. Adegannya tidak jelas benar bagiku. Tetapi pasti alur ceritanya yang membuat Cici menangis.

”Aku ini kata orang mata kepiting, mbak. Jadi gampang nangis. Kepiting itu kan tampak nangis terus, to. He...he...he...” Cici tertawa menyeringai dengan tangan yang sibuk menghapus air mata.

Di waktu-waktu lain dalam pengamatanku Cici memang gampang sekali mengeluarkan air mata. Puncaknya adalah ketika dia berpamitan untuk selamanya pulang ke Bangka, kembali ke orangtuanya. Ketika itu kusodorkan uang dalam amplop sebagai gaji terakhir sekaligus sokongan ongkos kepulangannya. Air matanya kembali tak terbendung, bibirnya berganti-ganti berubah ekspresi : senyuman, kemudian tarikan bibir ke bawah, begitu berulang. Mulutnya sibuk mengeluarkan ungkapan terima kasih. Begitupun ketika akhirnya dia benar-benar telah pergi. Ketika pertama kali kiriman e-mail foto-foto anakku dia terima melalui warnet, Cici menjawabnya dengan seuntai kalimat bahwa dia menangis saking gembiranya.

Menangis bukanlah sesuatu yang aneh dalam kehidupan ini. Kita biasa menangis apabila sedih, kecewa, atau justru karena terlalu bahagia. Tetapi terkadang ada orang-orang tertentu yang punya kebiasaan menangis lebih dari yang lain. Barangkali dalam khasanah pergaulan, kita menyebut orang itu sebagai orang yang cengeng. Tetapi secara ilmiah, menangis adalah mekanisme biologis yang terbukti dapat mengurangi rasa menderita dan melepaskan tekanan jiwa secara sesaat.

Menangis sering dimaknai negatif sebagai keterpurukan dan bagi kaum pria sebagai ketidakjantanan. Walaupun kita memang tidak dapat menyelesaikan masalah hanya dengan menangis, tetapi seharusnya orang tidak dilarang untuk menangis. Menangis secukupnya dan bertindaklah. Itu sangat solutif dibanding hanya menangis saja atau bertindak saja tetapi dengan dada yang penuh dengan gumpalan yang menyesakkan.

Bagi seorang Cici, menangis adalah saluran pelampian kekesalan atas masalah yang tak kunjung selesai sekaligus menghindarkan dia dari depresi yang lebih berat. Menangis justru merupakan sarana untuk bangkit. Walau dengan seringnya dia menangis, Cici harus rela dijuluki si Mata Kepiting.

1 comment:

layyina said...

aduh mbak hesti....ceritanya membuatku jadi kangen nada dan pipit...eh iya namanya yg bener pipit atau cici ya?