Thursday, February 22, 2007

JILBAB, ANTARA GAYA DAN REKONSTRUKSI DIRI

Dalam salah satu tulisannya, James Danandjaja mencatat bahwa era tahun 80-an merupakan awal munculnya kecenderungan baru di kalangan perempuan muslim terutama di kalangan remaja untuk mengenakan pakaian yang menutupi tubuh dari kepala hingga kaki. Menurut Danandjaja, kecenderungan ini semakin meluas tidak saja dipraktikkan oleh para perempuan muda, tetapi juga oleh generasi yang lebih tua. Misalnya saja para perempuan muslim yang pulang dari naik haji cenderung untuk mengenakan pakaian – yang disebutnya sebagai - gaya Arab. Sebagian besar dari mereka hanya memakai pakaian semacam itu selama sekitar empat puluh hari pertama dan kemudian kembali pada pakaian Barat, namun beberapa diantaranya tetap mengenakannya secara permanen (Danandjaja, 2005: 375). Pakaian gaya Arab yang dimaksud oleh Danandjaja adalah busana yang saat ini populer dengan sebutan jilbab.

Perjalanan panjang pemakaian jilbab di Indonesia memang tergolong keras dan berliku. Sejak masa penjajahan dahulu, pemakaian jilbab sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru (istilah jilbab berarti pakaian terusan panjang yang menutup seluruh tubuh, tetapi di Indonesia lebih mengacu pada kerudung atau penutup kepala, dan kadang diartikan pula sebagai busana yang menutup aurat perempuan. Untuk memudahkan pembicaraan, jilbab disini mengacu pada istilah kerudung). Para siswi sekolah-sekolah thawalib di Sumatera Barat misalnya, sudah menggunakan kerudung yang dikenal dengan istilah balilik (berlilit mengacu pada cara memakai kerudung yang dililitkan di kepala). Begitu juga dengan para pelajar dari sekolah-sekolah semacam Mu’alimat Muhammadiyah. Namun ada pula kebiasaan memakai jilbab yang muncul karena adat seperti para perempuan dari Rimpu di wilayah Bima (NTB). Kebiasaan memakai jilbab bagi mereka bukan karena kesadaran konsep menutup aurat seperti yang diperintahkan agama tetapi disifati sebagai tuntutan adat semata (Jamil, 2002: 11).

Tahun 70-an dicatat sebagai tahun munculnya gelombang kebangkitan pemeluk Islam di dunia internasional yang gaungnya merambah ke segala penjuru, termasuk ke Indonesia. Sejak saat itu, berbagai kajian keislaman diadakan oleh organisasi-organisasi bernafaskan Islam yang membuahkan kesadaran baru bagi perempuan muslim untuk menutup aurat. Selama kurun waktu 80-90-an jumlah pemakai jilbab terus bertambah, utamanya di kalangan mahasiswa dan pelajar. Namun bersamaan dengan itu, muncullah represi pemerintah (Orde Baru) lewat tangan-tangan birokrsinya yang tidak mengizinkan penggunaan busana muslimah secara bebas, terutama di lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah.

Orde Baru yang tengah berkuasa pada saat itu menganggap pemakaian jilbab sebagai semacam pernyataan politik seseorang. Memakai pakaian muslim dianggap sebagai semacam pakaian tempur dalam perlawanan terhadap suatu lingkungan non-Muslim atau masyarakat Muslim abangan, sebagaimana persepsi yang dimiliki pemerintah kolonial di masa lampau. Terhadap pakaian gaya Arab, pemerintah Hindia Belanda sering menafsirkannya sebagai salah satu dari banyak “kebangkitan Islam”. Hal ini diadopsi pemerintah Orde Baru yang khawatir pemakaian jilbab yang meluas akan mengakibatkan meningkatnya gejala yang mereka deskripsikan sebagai partikularistis – yaitu sentimen-sentimen Islami (Van Dijk, 2005: 81). Namun akhirnya setelah melalui tarik ulur yang cukup lama, tahun 1991 pemerintah mengeluarkan SK No. 100 yang intinya membolehkan penggunaan jilbab di setiap lembaga pendidikan (Jamil, 2002: 11). Sejak saat itu, laju pemakaian jilbab hampir tak dapat dibendung lagi.


DARI IDA ROYANI HINGGA GITA KDI

Saat ini di ruang-ruang publik, jilbab sudah menjadi pemandangan yang semakin umum. Hampir tidak ada satu tempat, kalangan, atau lembaga pun yang tidak tersentuh jilbab. Di kantor, lembaga –lembaga pemerintah, LSM, hotel, rumah sakit, kalangan ilmuwan, pejabat negara, artis, buruh, pengusaha, semua telah tersentuh jilbab. Berbagai jenis dan model jilbab yang anggun pun semakin banyak dikreasikan.

Menarik diamati, mode jilbab yang yang dikenakan dari satu era ke era selanjutnya ternyata tak lepas dari adanya tren tertentu. Di tahun 80-an, dikenal jilbab a la Ida Royani. Mantan penyanyi pop era 70-an ini memiliki sebuah butik busana muslim. Busana yang dijual sebagian besar amatlah mahal, sekitar 600.000 rupiah (Danandjaja, 2005: 375). Walau sebagian orang Jakarta yang kaya mampu membelinya, namun busana butik Ida Royani sangatlah segmented. Harga dan modelnya terlalu ekseklusif untuk dipakai masyarakat kebanyakan, tetapi hal ini memang merupakan langkah strategis Ida agar kalangan menengah dan atas tidak segan untuk berjilbab. Model gaun-gaun dari butik Ida Royani mempunyai ciri yang khas, yaitu warna-warna polos, penuh dengan draperi, dan terkesan boros kain.

Tahun 90-an, muncul artis Neno Warisman yang mode jilbabnya jadi panutan masyarakat. Neno selalu memakai kerudung ganda. Caranya adalah dengan memakai jilbab dasar, kemudian dilapisi dengan kerudung segitiga atau selendang ringkas dengan warna lain. Saat itu, hampir setiap acara resmi semisal resepsi pernikahan atau wisuda, penulis selalu melihat para perempuan pemakai jilbab meniru gaya Neno Warisman.

Di tahun 2000-an mode jilbab tambah seru seiring menjamurnya toko-toko dan butik-butik busana muslim di kota-kota kecil hingga kota-kota besar, terutama di Jawa. Tetapi lagi-lagi para artislah yang menggiring ke arah mana angin tren bertiup. Salah satu artis tersebut adalah Inneke Koesherawaty. Artis yang di era 80-an terkenal dengan film-film panasnya, di tahun 2000-an menghebohkan publik Indonesia dengan keputusannya untuk berjilbab. Saat itu dia menyatakan menyesali apa yang telah dilakukannya dalam dunia keartisan Dengan berjilbab Inneke berharap dapat merekonstruksi dirinya agar menjadi muslimah yang baik. Pemberitaan infotainmen yang mulai menjamur saat itu turut menggelembungkan popularitas Inneke. Apa yang dikenakan Inneke, dijadikan panutan oleh masyarakat. Salah satunya adalah “jilbab Inneke” yang kemudian populer. Bentuk jilbab gaya Inneke adalah memakai jilbab segitiga yang relatif kecil (tidak lebar), dililitkan ke leher, kemudian dimasukkan ke dalam kerah baju. Untuk mempermanis penampilan, bisa pula ditambahkan selembar – semacam syal – kecil dengan warna lain yang sesuai untuk dililitkan lagi di atas jilbab dasar. Gaya ini cukup lama bertahan, bahkan sampai sekarang. Para eksekutif muda perempuan, mahasiswi, dan ibu-ibu muda amat gemar menggunakan “gaya Inneke” ini.

Selain Inneke, ada pula artis kecil yang telah beranjak remaja yang turut mewarnai tren jilbab, yaitu Marshanda. Pada penampilannya di bulan Ramadhan tahun 2003, selain menggebrak pasaran lagu religius Islam dengan albumnya “Allah” serta penampilan berjilbabnya di sinetron “Bidadari”, apa yang dikenakan Marshanda menjadi tren di masyarakat. Hampir semua tempat yang menjual busana muslim menyediakan kerudung jenis ini, “kerudung Marshanda”. Bentuk kerudung ini simpel dan instan, yaitu berupa kerudung segitiga yang bertali di bagian kepala serta bertaut di bagian leher. Tidak perlu peniti, cukup dipaskan di kepala dan diikat. Selain itu, ada pula model lain, yaitu “kerudung Lutfiah Sungkar”. Hajjah Lutfiah Sungkar adalah seorang penceramah agama yang mengisi acara tetap disebuah televisi swasta nasional. Penampilannya memang khas, dengan jilbab dasar yang kemudian dilapisi dengan selendang lebar yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. “Kerudung Lutfiah Sungkar” digemari terutama oleh ibu-ibu.

Berbagai gaya yang terinspirasi para sebriti idola publik tersebut ternyata tidak seheboh yang paling mutakhir saat tulisan ini dibuat. Di awal tahun 2006 ini marilah sejenak kita cermati model seperti apa yang sedang digandrungi. Berdasar pengamatan penulis, sejak pertengahan tahun 2005 lalu, di ruang-ruang publik hampir semua perempuan muslim mulai mengenakan penutup yang bermodel sama di kepalanya. Ini adalah fenomena yang langka, karena se-tren apapun suatu gaya jilbab, belum pernah terlihat begitu masif seperti model tersebut. Model jilbab yang dimaksud adalah jilbab berbahan kaos (semacam bahan kaus untuk membuat blus strech yang biasanya ketat), berlapis spon dan membentuk ‘kanopi’ di bagian dahi dengan pola jahit tindas horizontal. Pola jahitan jilbab ini sangat inovatif karena menghasilkan penutup kepala yang bila dipakai akan membentuk kepala dan sekeliling leher secara ketat, tetapi sekaligus berdraperi. Coraknya bermacam-macam, mulai dari yang polos hingga berbunga-bunga. Warnanya juga sangat beragam, mulai dari warna cerah hingga warna gelap. Hebatnya, semua perempuan muslim sepertinya suka dengan jenis ini.

Dalam setiap kesempatan penulis ketika harus melakukan interaksi sosial di tengah masyarakat, kecenderungan ini sungguh dahsyat. Dalam semua kesempatan : arisan ibu-ibu, menjenguk bayi, menjenguk orang sakit, di majelis-majelis taklim, bahkan di layar-layar televisi, semua perempuan yang tampil berjilbab, hampir dipastikan sebagian besar memakai model ini. Lalu, darimana sumber inspirasi model jilbab ini?

Berdasar penelusuran penulis dari toko-toko ataupun dari mengorek info ke para perempuan berjilbab, semua menyatakan bahwa model ini dinamai “jilbab Gita KDI”. KDI merupakan singkatan Kontes Dangdut TPI. Sebenarnya memang akan terasa agak membingungkan ketika ada seorang pemakai jilbab menjadi penyanyi dangdut. Tetapi begitulah kenyataannya, citra pemakai jilbab sekarang tidak lagi dicap ‘angker’ sebagaimana awal kemunculannya dulu. Kontes dangdut ini adalah salah satu acara andalan stasiun televisi TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), yang sengaja dibuat demi menyaingi kontes-kontes sejenis tetapi yang beraliran musik pop semacam AFI (Akademi Fantasi Indosiar) atau Indonesian Idol di RCTI. Hingga saat ini KDI telah diselenggarakan hingga KDI 3 (KDI 4 masih menggelar audisi ketika tulisan ini dibuat). Salah satu pemenang KDI 2 tahun 2004 yang lalu adalah Gita, seorang perempuan muda berjilbab. Penampilannya yang berbeda dengan pedangdut pada umumnya, menarik simpati publik dan menghantarkannya menjadi pemenang kontes yang dianggap cukup bergengsi di kalangan pecinta musik dangdut ini. Pada malam-malam menjelang final hingga malam final puncak acara, Gita selalu mengenakan jilbab khas (dengan gambaran seperti yang telah dijelaskan tersebut di atas). Rupanya, jilbab yang dipakai Gita ini sekarang menjadi kerudung ‘sejuta umat’.


BEBERAPA ALASAN

Henk Schulte Nordholt (2005: 47) memberikan perhatian lebih jauh mengenai berbagai subjek yang berkaitan dengan tema penampilan luar dengan mengetengahkan suatu pernyataan :

Susan Brenner telah mencoba untuk menjelaskan mengapa para perempuan muda dan terpelajar di Jawa Tengah memilih memakai kerudung. Suatu pendekatan struktural mungkin akan mengungkapkan bahwa perempuan-perempuan ini adalah subjek tekanan eksternal dan bahwa “pilihan” mereka merupakan hasil dari sistem yang didominasi oleh pria. Sebaliknya, Brenner memperlihatkan bahwa para perempuan itu sendiri memutuskan untuk mengubah pakaian mereka sebagai proses kesadaran diri dan rekonstruksi diri. Cara berpakaian yang baru menyebabkan mereka mengubah perilaku.

Penulis sependapat dengan pernyataan di atas. Akan tetapi sayangnya, dalam buku tersebut dijelaskan bahwa penelitian Susan Brenner belum dipublikasikan sehingga kita belum dapat mengetahui poin-poin secara lengkap pemikiran yang disuguhkan Brenner. Menurut pendapat penulis, berdasarkan alasannya, pemakai jilbab dapat dibagi dalam dua kategori : yang pertama adalah mereka yang berjilbab dengan alasan sekedar sebagai gaya, (dan) atau sebagai ‘pengguguran kewajiban’ dalam kehidupan sosial. Yang kedua adalah mereka yang berjilbab dengan alasan sebagai upaya proses kesadaran diri dan rekonstruksi diri sebagaimana yang dinyatakan oleh Brenner.

Konsep jilbab didasarkan pada kewajiban agama Islam bagi pemeluknya untuk menutup aurat dengan jilbab. Aurat perempuan menurut Islam adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Aurat tidak boleh diperlihatkan kecuali terhadap suami atau mahramnya (saudara atau kerabat dengan kriteria tertentu), yang implikasinya secara umum mewajibkan perempuan menutup auratnya terutama bila di luar ataupun keluar rumah. Pada prakteknya, tidak semua perempuan muslim mempunyai pemahaman dan kesadaran yang sama mengenai konsep tersebut walaupun wejangan agama dalam berbagai kajian keislaman seringkali menyinggung hal ini. Di sisi lain tokoh-tokoh agama sebagian besar adalah tokoh yang berpengaruh dalam membentuk opini di tengah masyarakat tradisional dan mampu mempengaruhi kontrol terhadap masyarakat. Maka terjadilah suatu kompromi antara para perempuan dengan para tokoh agama (menurut pendapat saya, yang patut dicatat di sini adalah bahwa ‘tokoh agama’ yang dimaksud bukanlah representasi dari dominasi pria karena saat ini mulai muncul para dai perempuan yang justru banyak memberi andil). Kompromi itu terwujud misalnya dengan jilbab yang dikenakan hanya ketika mengikuti acara-acara bertema keagamaan. Selebihnya, dalam kondisi-kondisi yang seharusnya menutup aurat, banyak perempuan muslim yang tidak melakukannya.

Di bagian lain, penulis menemui para pemakai jilbab yang mengenakan jilbab lebih karena alasan gaya. Bagi sebagian orang, mengenakan jilbab memberi keuntungan-keuntungan secara fisik misalnya untuk menutupi kekurangan tubuh atau sekedar menarik respek dari orang lain. Ada pula yang mengenakan jilbab tanpa alasan yang spesifik, lebih karena “pengen aja”, “kayaknya enak”, dan sebagainya.

Pada kategori kedua, berdasarkan kesaksian yang penulis kumpulkan, para pemakai jilbab dengan alasan sebagai upaya proses kesadaran diri dan rekonstruksi diri mempunyai pola yang khas. Pola-pola itu biasanya diawali dengan adanya suatu kondisi semacam mental shock dari suatu peristiwa yang dialami, berlanjut dengan perenungan diri yang kemudian memunculkan dorongan internal untuk berjilbab, yang biasanya revolusioner. Pola ini terjadi di semua kalangan, termasuk kalangan selebriti. Misalnya saja pengakuan Ratih Sang, seorang peragawati senior Indonesia (dalam sebuah tayangan televisi “Ngaji Yuuk” yang dipandu ustadz Jefri Al Buchory di SCTV saat Ramadhan tahun 2005 yang lalu). Ketika Ratih Sang ditanya oleh pemandu acara apa alasan Ratih untuk berjilbab, Ratih menjawab bahwa kesadarannya muncul tahun 2002 lalu ketika ayahandanya meninggal dunia. Saat itu Ratih merasa sangat kehilangan serta amat terpukul.

Saya merasa sedih sekali. Saat itu saya teringat dengan salah satu hadits nabi, bahwa orang yang meninggal tidak akan membawa apapun kecuali sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak yang sholeh. Satu hal yang kemudian saya pikirkan adalah : saya ingin jadi anak sholeh bagi ayah saya. Selama ini saya merasa belum sholeh sama sekali. Nah, dari situlah saya tergerak untuk berjilbab, karena berjilbab adalah salah satu hal yang diperintahkan Allah yang saya belum melakukannya.

Ratih tidak menganggap jilbab sebagai penghalang profesinya, sementara profesi peragawati masih dianggap kontradiktif dengan penampilan berjilbab. Sebagai kompromi, Ratih Sang menciptakan genre modeling Islami dengan mendirikan sekolah mode, menerbitkan majalah, dan mengadakan even-even peragaan busana Islami.

Pola serupa juga dialami oleh Ida Royani. Dalam sebuah infotainmen “Ceriwis Yo Wis” di Trans TV bulan November 2005 lalu, Indy Barens sang pembawa acara menanyai Ida Royani mengenai hal apa yang mendorong Ida hingga tergerak untuk berjilbab. Saat itu Ida Royani menjelaskan bahwa sebelum berjilbab dia adalah artis yang ‘semau gue’ dalam berpakaian. Misalnya saja ketika dia memutuskan untuk memakai celana jeans gaya robek-robek, Ida tidak sekedar bercelana robek di lutut, tetapi robeknya dia sengaja di bagian pangkal paha atau bahkan di pantat. Suatu hal yang dianggap ‘berani’ kala itu. Namun suatu hari Ida yang ‘badung’ mendatangi suatu pengajian, dimana pemberi wejangan menyinggung masalah menutup aurat.

Nah, pak ustadz-nya itu mengatakan bahwa menurut Qur’an perempuan muslim yang kelihatan rambutnya, walau sehelai sekalipun, dia akan diazab sama Allah di neraka. Sama saja, rambut di atas sama rambut di bawah, semuanya hukumnya haram kalau tidak ditutup. Ya cuma sesimpel itu aja pengajian yang saya denger. Saya cukup shock mendengar hal itu. Tapi entah kenapa, saya kemudian selalu memikirkannya. Saya kemudian jadi banyak tanya ke orang-orang yang saya anggap lebih tahu...sampai akhirnya saya putuskan untuk mantap berjilbab. Alhamdulillah sampai sekarang.

Bagi perempuan berjilbab pada ketegori kedua ini, berjilbab adalah suatu dorongan internal dan sama sekali tidak berasal dari tekanan eksternal. Berdasar pengamatan penulis, memang ada pemakai jilbab yang memakai jilbab karena paksaan orang lain, akan tetapi biasanya tidak kita dapati ke-konsisten-an antara pakaian dengan perilakunya, ataupun ke-konsisten-an dalam pemakaiannya. Pemakai jilbab hasil paksaan akan melepaskan jilbabnya begitu ada kesempatan. Kondisi ini berkebalikan dengan pemakai jilbab yang didorong keinginan diri sendiri. Dia tidak akan melepas jilbabnya – bahkan menganggap perintah tersebut sebagai penghinaan besar – dalam kondisi apapun sejauh sesuai aturan dalam Islam. Pemakai jilbab dengan dorongan internal biasanya akan berusaha sekuat tenaga untuk segera berjilbab begitu keinginan itu muncul, untuk kemudian memakainya sekonsisten mungkin. Pada saat itu, mereka akan berusaha agar pakaian mereka dapat memberi dampak rekonstruktif bagi kepribadiannya.


PENUTUP

Dua kategori berdasar alasan sebagaimana diuraikan di atas, keduanya menurut hemat penulis sesungguhnya sama-sama bernilai rekonstruktif. Bagi kalangan yang menggunakan jilbab sebagai sekedar gaya atau sebagai kompromi sosial, masih ada harapan untuk mengubahnya menjadi suatu kesadaran. Bagi kategori kedua, kehadiran mereka akan sedikit banyak memberi pengaruh bagi kategori pertama. Akan tetapi jilbab hanyalah salah satu dari serba-serbi berpakaian. Keberadaannya merupakan bagian dari untaian peristiwa budaya yang dinamis dan berubah. Dalam dimensi sosial, apabila spirit jilbab yang bermakna rekonstruksi dapat diterapkan dalam struktur sosial, maka akan memunculkan rekonstruksi sosial yang lebih baik serta menghapus kekecewaan masyarakat saat ini terhadap konstruksi sosial yang ada.

Kepribadian tidak dapat diukur dengan pakaian, akan tetapi cara berpakaian seseorang akan mencerminkan kepribadian seseorang. Melalui pakaian, dandanan, dan tingkah laku pada tiap-tiap masa menyiratkan sebuah pernyataan yang sangat kuat tentang kelas, status, dan gender. Perubahan-perubahan dalam penampilan tubuh menawarkan petunjuk-petunjuk transformasi sosial yang luas (Taylor, 2005: 121).

Fenomena jilbab dapat pula dimaknai sebagai gejala komodifikasi (menjadi komoditas) di pentas konsumsi massa. Ketika kerudung dan jilbab serta fashion Islami lain kian menjadi salah satu ikon gaya hidup dalam fashion, dan mulai menjadi bisnis besar, serta banyak dipakai para artis dalam dunia hiburan seperti sekarang ini, maka hal ini tak ubahnya dengan memberi label “Islamisasi” dalam perilaku konsumtif di dunia mode dan shopping. Padahal mungkin yang terjadi sebenarnya adalah kapitalisasi Islam atau penaklukan semangat keagamaan oleh pasar, dunia bisnis, atau kapitalisme itu sendiri (Ibrahim, 2004: 11).

2 comments:

dani said...

Well done. Tulisan yang menarik ttg perkembangan jilbab. Berbasis riset dan observasi yang lumayan. Akan lebih berbobot kalau diperkaya dengan referensi tentang seluk beluk veiling, hijab, headscarf dsj.

Boleh sharing idea?

dd

NJ said...

Yup tul kali... menarik....